"Duit" itu Belanda
Kata sehari-hari untuk uang berasal dari nama koin tembaga kecil yang dibawa VOC.
Uang di negeri ini sudah berganti rupa berkali-kali: cangkang laut, keping emas, koin berlubang, lembar kertas, hingga kode QR. Setiap pergantian menjawab satu pertanyaan yang sama. Babak terbarunya sedang ditulis hari ini.
Selembar uang kertas sebenarnya hanyalah kertas. Sekeping emas hanyalah logam. Yang membuatnya berharga adalah sesuatu yang tidak terlihat: kepercayaan bahwa orang lain akan menerimanya besok, seperti kita menerimanya hari ini.
Sejarah uang di Nusantara adalah sejarah tentang kepercayaan itu, dan tentang bagaimana sumbernya terus berpindah: dari alam, ke raja, ke kongsi dagang, ke negara, ke bank. Delapan babak berikut menceritakannya secara ringkas.
"Di setiap zaman, uang adalah jawaban atas satu pertanyaan: apa yang kita percayai?"

Jauh sebelum ada kerajaan yang mencetak koin, di berbagai penjuru Asia, termasuk wilayah Nusantara, cangkang kerang kauri dipakai sebagai alat tukar. Bentuknya seragam, awet, ringan dibawa, dan sulit ditiru.
Tidak ada yang bisa "mencetak" kauri sesukanya. Pasokannya diatur oleh alam, dan justru karena itu orang mempercayainya.

Di zaman yang sama ketika Borobudur dibangun, kerajaan-kerajaan di Jawa sudah memakai keping emas dan perak kecil. Prasasti-prasasti batu mencatat satuan nilainya, seperti suwarna, masa, dan kupang, untuk urusan pajak, denda, dan jual beli tanah.
Prasasti itu sendiri adalah semacam buku besar: catatan publik yang dipahat agar tidak bisa diubah. Ide yang, seribu tahun kemudian, akan kembali dalam bentuk lain.

Di masa Majapahit, kepeng tembaga dari Tiongkok beredar sangat luas sebagai alat pembayaran sehari-hari. Lubang di tengahnya punya fungsi praktis: ratusan keping bisa diikat dengan tali dan dihitung sekaligus.
Untuk pertama kalinya, nilai uang tidak lagi terletak pada bahannya, karena tembaga murah. Nilainya bergantung pada jaringan dagang yang luas dan kesepakatan bersama untuk menerimanya.

Cengkih dan pala dari Maluku menjadi salah satu komoditas paling dicari di dunia, dan pedagang dari Arab, India, Tiongkok, lalu Eropa datang mengejarnya. Di ujung utara Sumatra, Kesultanan Samudera Pasai mencetak dirham emas, yang sering disebut sebagai salah satu koin emas Islam tertua di Nusantara.
Nusantara bukan hanya pengguna uang. Ia adalah pusat perdagangan yang ikut menentukan nilai.

Kongsi dagang Belanda, VOC, membawa dan mengedarkan koin tembaga kecil bernama duit. Koinnya sudah lama hilang dari peredaran, tapi namanya masih kita ucapkan setiap hari: "ada duit?"
Kali ini kepercayaan dipaksakan dari atas oleh sebuah perusahaan dagang bersenjata. Uang menjadi alat kekuasaan, bukan kesepakatan.

Setahun setelah proklamasi, Republik yang masih muda menerbitkan uangnya sendiri: Oeang Republik Indonesia, atau ORI, yang resmi beredar pada 30 Oktober 1946. Tanggal itu kini diperingati sebagai Hari Oeang.
Mencetak uang sendiri adalah cara paling jelas untuk mengatakan "kami berdaulat". Kepercayaan kini bersandar pada negara, lalu dirawat oleh Bank Indonesia sejak 1953 melalui Rupiah.

Bank Indonesia meluncurkan QRIS pada 17 Agustus 2019, sebuah standar kode QR nasional. Kini pedagang kaki lima sampai toko besar menerima pembayaran dengan satu pindaian. Uang tidak lagi berpindah tangan secara fisik; yang berpindah adalah angka di server.
Praktis sekali. Tapi ada pertanyaan baru: saldo itu tercatat di buku milik siapa? Dan siapa yang berhak membekukan atau mengubahnya?
Pada dini hari 1 Desember 2025, blok pertama NusaChain ditambang. Seperti prasasti Mataram, ia memahat sebuah pesan yang tidak akan pernah bisa diubah siapa pun:
Kali ini, kepercayaan tidak diberikan kepada raja, perusahaan, atau bank. Ia diberikan kepada aturan yang ditulis dalam kode terbuka: pasokan dikunci 18 juta, tidak ada yang bisa mencetak lebih, dan setiap catatan bisa diperiksa siapa saja. Seperti kauri di babak pertama, kelangkaannya tidak bisa diatur sesuka hati, hanya saja kali ini yang menjaganya adalah matematika.
Kalau semua babak dijajarkan, terlihat pola yang menarik. Hanya ada satu bentuk yang bisa dikirim ke seberang dunia dalam hitungan menit tanpa perlu menitipkannya pada pihak ketiga.
| Kerangkuno | Emasabad 9 | Kepengabad 13 | Uang kertas1946 | Saldo digital2019 | NUX2025 | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Pasokan terbatas | 18 juta | |||||
| Awet | ||||||
| Mudah dibawa | ||||||
| Sulit dipalsukan | kriptografi | |||||
| Dikirim jauh dalam menit | umumnya domestik | lintas negara | ||||
| Disimpan tanpa perantara | dititip di bank | |||||
| Diterima luas hari ini | sebagai simpanan | baru dimulai | ||||
| Yang menjamin | alam | logam | jaringan dagang | negara | bank & sistem | matematika & konsensus |
Kata sehari-hari untuk uang berasal dari nama koin tembaga kecil yang dibawa VOC.
Hari Oeang Republik Indonesia, memperingati beredarnya ORI pada 1946.
Kepeng sengaja dibuat berlubang supaya bisa diuntai dengan tali dan dihitung per ikat.
Setiap pesan antar node NusaChain diawali 4 byte 4E 55 53 41, yang dalam ASCII terbaca "NUSA".
Nenek moyang kita menerima kauri, emas, kepeng, dan kertas pada zamannya masing-masing. Babak kedelapan masih sangat muda, dan kamu bisa ikut menulisnya sejak halaman pertama.